Berita

Selasa, 1 November 2011

Orkes Sinten Remen, Keroncong Sambil Guyon

Bila Anda mendengar kata keroncong, mungkin Anda akan berpikir 'zaman doeloe banget'. Namun bagaimana bila identitas asli Indonesia itu tenggelam oleh modernisasi?

Dapatkah kita bayangkan bahwa tak ada lagi karya orisinil yang nantinya dapat mengangkat nama bangsa kita lewat kebudayaan tradisional daerah? Hal itulah salah satu alasan terbentuknya Orkes Sinten Remen sejak tahun 1997. Tanpa ada embel-embel keroncong agar tidak membatasi ruang gerak aransemen dan lagunya.
 
Maka tak heran bila lagu-lagu yang dibawakan Orkes Sinten Remen memiliki aransemen keroncong dipadukan sentuhan-sentuhan modern seperti jazz, pop, hingga dangdut. Lagu-lagu yang mereka bawakan pun memiliki lirik yang dapat membuat Anda menyimak betul pesan yang disampaikan di dalamnya.

Seperti lagu komedi putar tentang sindirian kepada pemerintah yang sering mengobral janji kepada rakyat. Parodi anak indonesia tentang hidup anak jalanan yang disuruh mencopet dan mengemis dengan benar oleh orang tua tak bertanggung jawab mereka.
 
"Kontribusi pasar seni ini luar biasa, karena ada nilai sosial untuk publik dan membesarkan seniman-seniman Indonesia," kata Djaduk Ferianto, pencentus, leader sekaligus penyanyi utama di Orkes Sinten Remen ini pada Jumat, (12/10/2011).
 
Adanya Orkes Sinten Remen ini dapat terus melestarikan seni musik asli Indonesia. Serta memperkenalkan kepada publik baik nasional maupun Internasional bahwa musik keroncong tak lagi kuno namun dapat menyesuaikan diri dengan era globalisasi.

 

Share on Facebook 

Copyright 2011 - Taman Impian Jaya Ancol
View full site